Minggu, 29 Desember 2013

Budaya, Globalisasi dan Kaitannya Dengan Masyarakat



Oleh Afidatun Nafi’ah
Jurusan Kurikulum Dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang
ABSTRAK
Globalisasi muncul karena kebutuhan individu untuk mendapatkan informasi terbaru secara cepat dan memang globalisasi informasi sangat dibutuhkan bagi masyarakat modern. Tetapi dengan adanya globalisasi yang semakin canggih ini diharapkan Indonesia tidak kehilangan jati diri bangsa, karena bias saja kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menggeser nilai dan terjadi transformasi nilai (budaya). Karya ilmiah ini membahas tentang budaya, globalisasi, dan akibat yang ditimbulkan dari globalisasi. Tujuan dari menanamkan cinta budaya ke masyarakat agar bangsa Indonesia ini tidak kehilangan jati diri bangsa karena dalam praktiknya proses globalisasi itu melanda negara-negara di dunia yang sedang berkembang. Dari hasil studi pustaka yang penulis lakukan budaya adalah sebuah system yang mempunyai koherensi. Bentuk-bentuk simbolis yang berupa kata, benda, laku, mite, sastra, lukisan, nyanyian, musik, kepercayaan mempunyai kaitan erat dengan konsep-konsep epistemology dari system pengetahuan masyarakatnya.
Kata kunci: Budaya, globalisasi informasi komunikasi, masyarakat multikultural.

A.    Pendahuluan
Budaya merupakan jati diri bangsa yang menjadi ciri khas suatu negara, budaya harus dijaga dan dilestarikan agar kita tidak kehilangan jati diri kita sendiri. Selain itu kita harus bangga menggunakan produk buatan dalam negeri karena dengan membeli produk buatan dalam negeri secara tidak sengaja itu merupakan wujud dari cinta produk buatan dalam negeri. Jika kita mempunyai sifat konsumerisme terhadap produk ekspor maka sama saja kita menutup lapangan pekerjaan anak dalam negeri.
Topik ini perlu didalami dan dipelajari lebih dalam agar globalisasi yang saat ini marak terjadi tidak melunturkan jati diri bangsa indonesia khususnya budaya jawa yang perlu dilestarikan dan diajarkan kepada para generasi muda. Anak-anak sekarang adalah generasi masa depan, jika mereka lupa akan budaya indonesia siapa lagi yang akan melestarikan? Jadi menurut saya anak-anak harus diperkenalkan budaya indonesia dan diajari nilai-nilai moral bangsa Indonesia agar cinta dan bangga pada budaya Indonesia.
Anak-anak bisa belajar kebudayaan Indonesia dari keseniannya dulu seperti menyukai musik tradisional Indonesia, tarian tradisional Indonesia. Setelah itu mulai belajar menyukai pakaian Indonesia hingga akhirnya cinta dan bangga memakai produk buatan Indonesia.
Budaya baru dari luar maupun dari dalam negeri akan terus tumbuh dan berkembang seiring peradaban manusia. Dengan perkembangan teknologi informasi, pertumbuhan kebudayaan tidak akan bisa dilawan. Merebaknya tren gangnam style, harlem shake dan goyang caesar kini sudah merasuki jiwa kawula muda. Namun perkembangan ini hendaknya tidak membuat budaya Jawa disterilkan atau dipinggirkan.
Sebagaimana definisi tentang pengetahuan budaya yang diungkapkan oleh Wilardjo bahwa, “Pengetahuan budaya (the humanities) adalah pengetahuan yang mencakup keahlian (disiplin) seni dan filsafat. Keahlian ini dapat dibagi lagi dalam keahlian-keahlian lain, seperti seni sastra, seni tari, seni musik, seni rupa, dan lain-lain. Oleh karena itu konsep budaya ini perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat agar masyarakat bisa lebih peka terhadap lingkungan budaya sehingga mereka akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan pekerjaan mereka.
Selain itu memberi kesempatan bagi masyarakat untuk dapat memperluas pandangan mereka tentang masalah kemanusiaan dan budaya serta mengembangkan berpikir kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut budaya.
Pada artikel yang ditulis Puspita (Suara Merdeka, 28 Oktober 2013:8) yang diungkapkan oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip Semarang Agus Maladi Irianto, menyatakan bahwa meski punya banyak kebudayaan, tapi masyarakat tidak sadar telah dimasuki budaya dari luar. Kebudayaan terus bergerak seiring dengan peradaban manusia, namun kebudayaan jawa lantas jangan disterilkan. Masuknya budaya baru ini tak lepas dari pengaruh konsumsi pasar. (dalam Ariani Puspita 2013)
Harapan dan masa depan bangsa berada di tangan generasi muda seperti kita para mahasiswa. Ditangan kitalah negara ini akan dibawa. Jika jiwa kita lemah dan tidak mempunyai jiwa nasionalisme maka negara kita akan terus dijajah. Namun jika jiwa kita kuat, jika kita memiliki gagasan dan inovasi yang membawa ke arah perubahan sesuai dengan UUD 1945 serta pancasila maka saya yakin Indonesia akan menjadi negara yang kuat dan berdiri di atas kakinya sendiri.
Bentuk riil dari rendahnya masyarakat mengenal budaya adalah dengan semakin lunturnya bahasa tata krama antara orang yang lebih muda dengan yang lebih tua, kemudian tidak bangga menggunakan produk dalam negeri juga salah satu faktor masyarakat tidak menghargai budaya Indonesia. Misalnya, batik adalah salah satu ciri khas asli budaya Indonesia yang harus dilestarikan dan dijaga, dengan kita mencintai batik dan bangga untuk memakainya itu sudah termasuk melestarikan budaya Indonesia.
Satu contoh kasus lagi adalah tari pendet dari Bali yang di klaim oleh Malaysia, itu terjadi karena budaya kita sendiri tidak dijaga dan dilestarikan dengan baik sehingga dengan mudahnya Malaysia mengaku bahwa tari pendet dari Bali adalah hak miliknya. Selain itu seharusnya pemerintah juga berperan aktif dalam menjaga budaya Indonesia agar budaya Indonesia tidak di klaim oleh negara lain. Sebenarnya sadar akan budaya itu bisa tumbuh dari dalam diri kita masing-masing jika kita mau sedikit peka terhadap budaya kita.
Lalu sampai kapankah bangsa Indonesia ini akan dengan sadar sendiri menyadari bahwa pentingnya menjaga budaya yang telah diwariskan. Indonesia kaya akan budaya, maka seharusnya kita harus menjaga dan melestarikan budaya Indonesia. Bagaimana cara menumbuhkan kesadaran akan pentingnya budaya? (dalam Cintya Asri 2012:24)

B.     Budaya dan Masyarakat
Pada dasarnya budaya memiliki tugas yang penting dalam masyarakat yaitu mengenalkan kepada negara lain tentang jadi diri bangsa, kekayaan yang dimiliki oleh suatu negara, warisan budaya yang beranekaragam yang dimiliki oleh suatu negara. Maka dari itulah orang yang melestarikan budaya diharapkan mampu mengajak orang lain ikut serta melestarikan budaya yang ada di masyarakat. Sejarah budaya di setiap bangsa berbeda-beda, seperti Indonesia yang memiliki sejarah sendiri dari kebudayaan yang dimiliki. Budaya dapat menjadi tolok ukur untuk menilai watak suatu bangsa. Dengan demikian budaya sangat mempengaruhi watak, karakter suatu negara.
Kreatifitas manusia sepanjang sejarah meliputi banyak kegiatan, di antaranya dalam organisasi sosial dan ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan proses simbolis. Uraian singkat ini akan memusatkan pada kegiatan manusia dalam menciptakan makna yang merujuk pada realitas yang lain daripada pengalaman sehari-hari. Proses ini meliputi bidang-bidang agama, filsafat, seni, ilmu, sejarah, mitos, dan bahasa. Sebegitu luasnya bentuk-bentuk diatas sehingga kita harus membatasi diri pada beberapa hal yang terjangkau dalam bahasan-bahasan sekitar sosiologi budaya, sosiologi pengetahuan, atau sosiologi kesenian.
Hubungan antara penduduk, masyarakat, dan kebudayaan yaitu penduduk menyebabkan terjadinya masyarakat yang memiliki kebudayaan masing-masing. Ketiga hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kebudayaan merupakan ciri khas yang dimiliki oleh suatu penduduk masyarakat yang terlahir secara turun temurun dari suatu daerah atau negara. Kebudayaan diantara lain adalah kepercayaan, adat istiadat, kesenian, moral, nilai-nilai serta norma-norma. Pertumbuhan yang makin cepat mendorong pertumbuhan aspek-aspek kehidupan yang meliputi aspek sosial, ekonomi, politik, kebudayaan. Berbeda dengan makhluk lain, manusia mempunyai kelebihan dalam kehidupannya. Manusia dapat mengembangkan akal budinya. Pemanfaatan dan pengembangan akal budi telah terungakp pada perkembangan kebudayaan, baik kebudayaan rohani maupun kebudayaan kebendaan. Akibat dari perkembangan kebudayaan ini, telah mengubah cara berpikir manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Penduduk masyarakat dan kebudayaan merupakan konsep-konsep yang satu sama lain sangat berdekatan dan berhubungan. Bermukimnya penduduk dalam suatu wilayah tertentu dalam waktu yang tertentu pula, memungkinkan untuk terbentuknya masyarakat di wilayah tersebut. Ini berarti masyarakat akan terbentuk bila ada penduduknya sehingga tidak mungkin akan ada masyarakat tanpa penduduk, masyarakat terbentuk karena ada penduduk. Demikian pula hubungan antara masyarakat dan kebudayaan, ini merupakan dwi tunggal, hubungan dua yang satu dalam arti bahwa kebudayaan merupakan hasil dari suatu masyarakat, kebudayaan hanya akan bisa lahir tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Tetapi juga sebaliknya tidak ada suatu masyarakat yang tidak didukung oleh kebudayaan. Hubungan antara masyarakat dan kebudayaan inipun juga merupakan suatu hubungan yang saling menentukan. (dalam Edward Bruner 1974: 251-280)

C.    Komunikasi Antar Budaya
Ketika kita berkomunikasi dengan orang-orang lain, kita dihadapkan pada bahasa-bahasa, aturan-aturan, dan nilai-nilai yang berbeda. Sulit bagi kita untuk memahami komunikasi mereka bila kita sangat etnosentrik. Summer (1995), (dalam Dedi Mulyana 2005) mengatakan bahwa memandang segala sesuatu dalam kelompok sendiri sebagai pusat segala sesuatu itu, dan hal-hal lainnya diukur dan dinilai berdasarkan rujukan kelompoknya. Pandangan-pandangan etnosentrik itu antara lain berbentuk stereotip, yaitu suatu generalisasi atas sekelompok orang, objek atau peristiwa yang secara luas dianut suatu budaya. Ini tidak berarti bahwa stereotip salah. Ada setitik kebenaran dalam stereotip dalam arti dalam sebagian stereotip cukup akurat sebagai informasi terbatas untuk menilai sekelompok orang yang hampir tidak kita kenal. Namun bila kita menerapkannya pada individu tertentu, kebanyakan stereotip tidak tepat dan banyak keliru. Situasi-situasi yang memalukan bisa muncul bila kita bergantung pada stereotip ketimbang persepsi langsung.
Kesalahpahaman antarbudaya masih sering terjadi di beragai negara. Seperti contoh kasus mahasiswa di New York menganggap bahwab orang bule yang memberikan buku dengan tangan kiri kepadanya sebagai tidak beradab padahal orang Amerika itu bermaksud demikian karena dalam budayanya menggunakan tangan kiri bukan kekurangajaran. Seorang pria Indonesia merasa jengkel sambil menggerutu melihat sapi-sapi berkeliaran di New Dehli yang dianggap binatang suci oleh penduduk sekitar yang mayoritas beragama hindu karena mengahalangi mobil yang dikendarainya. (Dedi Mulyana 2005)
Kesalahpahaman antarbudaya diatas dapat dikurangi jika kita sedikitnya mengetahui bahasa dan perilaku budaya orang lain, mengetahui prinsip-prinsip komunikasi antarbudaya dan mempraktikannya dalam berkomunikasi dengan orang-orang lain.
Untuk bangsa Indonesia pengajaran komunikasi antarbudaya lebih penting lagi menginggat bangsa kita terdiri dari berbagai suku bangsa dan ras. Dalam kehidupan sehari-hari, apalagi di kota-kota besar pertemuan kita dengan mereka tidak terhindarkan.  Di negara kita terdapat banyak sub kultur antara lain: ras, suku bangsa, agama, latarbelakang daerah (desa/kota), latarbelakang pendidikan, dan sebagainya. Banyak orang Indonesia pergi ke daerah-daerah lain di wilayah Indonesia bahkan ke luar negeri untuk belajar, bisnis atau bekerja. Demi kelancaran tugas mereka, penting bagi mereka untuk mengetahui asas-asas komunikasi antarbudaya.
Meskipun berbagai kelompok budaya semakin sering berinteraksi, bahkan dengan bahasa yang sama sekalipun, tidak berarti komunikasi akan berjalan mulus atau bahwa sendirinya akan tercipta saling pengertian karena antara lain, sebagian dari kita masih punya prasangka terhadap kelompok budaya lain dan enggan bergaul dengan mereka. Penemuan Bruner (1974), (dalam Dedi Mulyana 2005) tentang stereotip antarsuku di Indonesia agaknya tetap relevan. Masih sering terdengar bahwa orang jawa dan sunda beranggapan bahwa mereka halus dan sopan dan bahwa orang batak kasar, nekad, suka berbicara keras, pemberani dan sering berkelahi.
Alasan pertama untuk mempelajari komunikasi antarbudaya, yaitu bahwa dunia sedang menyusut, semakin terasakan dewasa ini. Proses itu sering disebut globalisasi. Karena proses ini terus berjalan, dunia pendidikan ditantang untuk menghasilkan sumberdaya manusia  (SDM) yang unggul dan mampu menghadapi pencepatan proses globalisasi yang ditimbulkan liberalisasi ekonomi dan sistem perdagangan bebas secara global. Para pendidik diharapkan dapat mengembangkan nilai-nilai yang berorientasikan perdamaian dan mengembangkan kemampuan kerjasama antarbangsa dan antarbudaya.
Pengajaran komunikasi antarbudaya di lembaga-lembaga pendidikan tinggi dan lembaga-lembaga pendidikan nonformal di Indonesia dapat kita jadikan salah satu sarana untuk menciptakan SDM Indonesia yang kita cita-citakan. Layak bila kita dapat menyebarkan pengetahuan lewat media cetak untuk memperlancar pendidikan tersebut.



D.    Dampak Globalisasi Terhadap Kehidupan Budaya Masyarakat
Bagi indonesia yang saat ini sedang melaksanakan pembangunan nasional, proses transformasi terus berlanjut dan tidak terlepas dari elemen kemodernan. Konsekuensi dari kemodernan ini akan diikuti pula perubahan-perubahan sosial budaya termasuk perubahan tata nilai yang bersumber pada nilai-nilai budaya. Dalam proses kemodernan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan unsur-unsur yang dominan. Untuk kepentingan Indonesia modern, penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian penting dalam usaha mensukseskan pembangunan nasional.
Perkembangan kemajuan teknologi informasi yang menuju ke arah globalisasi komunikasi cenderung berpengaruh langsung terhadap tingkat peradaban manusia. Kita semua menyadari bahwa perkembangan teknologi informasi pada dekade terakhir ini bergerak sangat pesat, dan telah menimbulkan dampak positif maupun negatif terhadap tata kehidupan masyarakat di berbagai negara termasuk Indonesia.
Masuknya pengaruh globalisasi informasi dan komunikasi ke Indonesia itu tidak mungkin dihindari. Diterimanya pengaruh globalisasi informasi dan komunikasi ini merupakan konsekuensi pasal 32 UUD 1945, yang dalam penjelasannya menjelaskan bahwa, kita bangsa Indonesia tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.
Wujud konkrit dari maksud penjelasan pasal 32 UUD 1945 itu adalah terjadinya kontak-kontak budaya kita dengan budaya asing. Ini merupakan suatu kenyataan bahwa bangsa Indonesia sebagai makhluk sosial tidak dapat menghindarkan diri dari keterikatan dengan bangsa lain dengan konsekuensi menerima pengaruh globalisasi dan komunikasi, yang memperkenalkan kepada kita ilmu pengetahuan dan produk-produk teknologi, termasuk teknologi informasi yang baru.
Sebagai akibat pengaruh globalisasi informasi dan komunikasi adalah tumbuhnya diantara sebagian masyarakat pedesaan yang miskin pendidikan dan keterbatasan yang serba kompleks, cenderung untuk berusaha mempertahankan keterikatan tata nilai tradisional serta menghindarkan diri dari benturan globalisasi. Sedangkan sebagian masyarakat yang cukup mengenyam pendidikan dan berpikiran maju berusaha untuk begitu saja menerima dan beradaptasi dengan modernisasi dan menyambut globalisasi.
Bertolak dari pemikiran diatas tersebut penelitian akan melihat dampak globalisasi informasi dan komunikasi terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat di daerah. Sedang permasalahan yang diangkat adalah sejauh mana dampak globalisasi informasi dan komunikasi terhadap kehidupan sosial budaya di daerah. Artinya siapkah masyarakat Indonesia menghadapi proses globalisasi komunikasi dan informasi yang dalam kenyataannya sangat dibutuhkan untuk mensukseskan pembangunan nasional?
Dampak teknologi informasi yang untuk masyarakat Indonesia adalah televisi telah mempermudah dan mempercepat terjadinya perubahan sosial. Perubahan sosial yang tidak terkendali dapat menyebabkan kerawanan-kerawanan sosial. Pola perilaku masyarakat sedikit demi sedikit mulai dipengaruhi oleh apa yang mereka terima dan bisa jadi melenceng dari tahap perkembangan kejiwaan maupun norma yang berlaku.
Secara sosio-psikologi arus informasi yang terus-menerus menerpa kehidupan kita akan menimbulkan berbagai pengaruh terhadap perkembangan jiwa khususnya anak-anak dan remaja. Pola perilaku mereka sedikit demi sedikit mulai dipengaruhi oleh apa yang mereka terima dan bisa melenceng dari tahap perkembangan kejiwaan maupun norma yang berlaku. Televisi dengan semua kekuatan yang dimilikinya mampu mengatur, menentukan pola berpikir dan perilaku masyarakat. Pengaruh globalisasi informasi komunikasi tampak dalam dampaknya terhadap tatanan tradisional yang berlaku dalam masyarakat, pola tingkah laku atau gaya hidup para individu anggota masyarakat, pendidikan dan kehidupan keluarga.
Daya pengaruh informasi terhadap masyarakat tergantung pada jenis yang digunakan untuk menyampaikan dan menyebarluaskan informasi itu: teknologi informasi. Diantaranya jenis teknologi informasi yang mempunyai daya rangsang tinggi adalah flim, televisi, telematika komputer komunikasi. Tetapi yang jelas apapun bentuk dan jenisnya, informasi memiliki kekuatan mengubah sikap, pendapat, keyakinan, dan tingkah laku individu. Saat ini informasi menjadi sangat penting dan dibutuhkan oleh masyarakat modern. ( Murniatno 1997)

E.     Kesimpulan   
Jadi dapat disimpulkan bahwa kita sebagai sebagai bangsa Indonesia punya beranekaragam budaya baik itu budaya yang bersifat daerah maupun yang bersifat nasional. Kalau kita tinjau pengertian dari budaya adalah merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia, untuk itu apapun jenis budaya itu harus kita hargai dan kita lestarikan. Kewajiban untuk melestarikan dan menjaga nilai-nilai luhur budaya adalah merupakan tanggungjawab kita semua sebagai bangsa Indonesia. Muncul pertanyaan sejauh manakah pemerintah dan masyarakat memperhatikan dan memelihara tentang budaya-budaya yang ada di Indonesia.
secara keseluruhan menunjukkan bahwa dampak positif globalisasi informasi dan komunikasi lebih menonjol di desa dekat perkotaan. Sebaliknya untuk dampak negatif lebih menonjol dialami oleh desa yang terletak jauh dari kota. Hal ini bila dikorelasikan dengan pendidikan maka menunjukan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan seseorang cenderung lebih mampu untuk memanfaatkan teknologi informasi dan memilih rubrik yang paling menguntungkan. Sebaliknya makin rendah tingkat pendidikan seseorang cenderung melemah dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dan memilih rubrik yang diminati.
Khusus bagi anak-anak dampak positif globalisasi lebih banyak dirasakan oleh mereka yang tinggal di daerah yang jauh dari perkotaan. Hal ini dikarenakan kesempatan yang terbatas bagi anak-anak untuk menikmati siaran televisi, lagi pula setiap orang tua masih mampu untuk mengawasi anak-anaknya. Sebaliknya dampak yang negative banyak diterima oleh anak-anak yang tinggal di daerah perkotaan. Hal ini karena kurang pengawasan orang tua yang disibukkan oleh segala macam urusan dank arena fasilitas teknologi informasi lebih memberikan kesempatan anak-anak untuk menikmati siaran televisi. Tanpa adanya pengawasan orang tua justru acara-acara televisi itu menjadikan boomerang bagi anak-anak.  






     Daftar Pustaka :
-          Asri, C. 2012. Budaya Indonesia Harus Kita Cintai. Suara Merdeka. Semarang. 16 September. Hlm. 24
-          Bruner, Edward. “The Expression of Ethnicity in Indonesia.” Dalam Abner Cohen, ed. Urban Ethnicity. London: Tavistock, 1974: 251-280.
-          Mulyana, D. 2005. Komunikasi antarbudaya. Semarang: Remaja Rosdakarya
-          Murniatno. 1997. Dampak globalisasi informasi terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat. Yogyakarta: Mega Mulya
-          Puspita, A. 2013. Budaya Jawa Jangan Disterilkan! Suara Merdeka. Semarang. 28 Oktober. Hlm. 8
-          Triananti. 2011. Hubungan antara penduduk masyarakat dan kebudayaan. Di unduh di http://trianatanti.blogspot.com/hubungan-antara-penduduk-masyarakat-dan.html bulan September 2011 
-          Undang-Undang Republik Indonesia Pasal 32 Tahun 1945 tentang Pengaruh Globalisasi Informasi dan Komunikasi. 1945. Jakarta : Republik Indonesia
-          Wilarjo, 2007. Pengetahuan Budaya (the humanities). Semarang: Pradnya Paramita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar