Senin, 30 Desember 2013

MASYARAKAT CERDAS WASPADA TERHADAP FORMALIN

Oleh Revina Riandini
Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Semarang
riandinirevina@gmail.com
ABSTRAK
            Dewasa ini banyak beredar bahan pengawet makanan,  Pengawet makanan digolongkan menjadi dua, pertama pengawet alami yang bisa diperoleh dari bahan makanan segar seperti bawang putih, gula,  garam dan asam. Golongan kedua adalah pengawet sintetis, contoh dari pengawet tersebut adalah nastrium benzoat, kalium sulfit dan nitrit. Bahan pengawet di atas adalah bahan pengawet yang di anjurkan oleh BPOM tetapi karena harganya yang mahal dan sulit di dapat maka banyak pedagang nakal yang menggunakan bahan pengawet yang murah dan mudah di dapat yaitu Formalin. Formalin sebenarnya di gunakan untuk pengawet mayat sebelum mayat tersebut di kremasi atau di kubur. Dalam makalah ini akan di bahas tentang apa itu formalin dan apa akibatnya jika masuk kedalam tubuh manusia.
Keywords: masyarakat cerdas, waspada, formalin

1.      PENDAHULUAN
Seiring dengan perkembangan jaman dan perkembangan teknologi maka gaya hidup masyarakat sangatlah berbeda, sekarang masyarakat lebih memilih atau menyukai hal-hal yang instan terutama dalam hal makanan. Makanan instan kini banyak di jumpai di pasaran, entah itu pasar tradisional maupun pasar modern. Untuk membuat makanan instan tentunya di butuhkan bahan pengawet untuk menjaga makanan itu agar tetap segar walau sudah berhari-hari di simpan. Ada berbagai macam bahan pengawet yang berada di pasaran. Karena latar belakang  inilah yang membuat saya ingin membuat sebuah karya tulis yang menyangkut tentang penggunaan bahan pengawet pada makanan.
Bahan pengawet di bedakan menjadi dua  yaitu bahan pengawet alami dan bahan pengawet sintetis. Bahan pengawet alami yaitu bahan yang di buat secara alami contohnya adalah garam dapur, gula pasir, cuka, dan dengan cara di keringkan. Sedangkan bahan pengawet sintetis adalah bahan pengawet yang di buat dengan cara fermentasi dari bahan-bahan kimia contohnya adalah natrium, benzoat, kalium sulfit dan nitrit. Dalam penggunaan bahan pengawet juga di batasi oleh BPOM (Badan Pengawet Obat dan Makanan) seberapa banyak penggunaan yang di bolehkan untuk di campurkan dalam makanan terutama dalam penggunaan pengawet sintesis. Pemerintah juga sudah menetapkan bahan pengawet yang aman bagi kesehatan seperti yang di atur dalam Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/88 1. Benzoat, (dalam bentuk asam, garam kalium, garam natrium), 2. Propionat (dalam bentuk asam, garam kalium, garam natrium), 3. Nitrit (dalam bentuk garam kalium/natrium) dan nitrat ( dalam bentuk garam kalium/natrium), 4. Sorbat, (dalam bentuk garam kalium dan kalsium), 4. Sulfit (dalam bentuk garam kalium dan natrium bisulfit atau metabisulfit).
Seperti kita ketahui bahan-bahan pengawet alami jika di gunakan dalam jumlah banyak akan memerlukan biaya yang banyak, sehingga kebanyakan dari produsen yang memilih bahan sintetis yang lebih murah di bandingkan dengan bahan alami. Tapi bahan sistesis susah untuk di dapatkan di pasaran karena harus membeli di toko-toko bahan obat-obatan yang tidak di semua tempat di temui, masalah tersebut menjadikan para produsen memutar otak mereka untuk menemukan bahan apa yang murah dan bisa di temukan yaitu formalin dan borak. tapi yang akan saya bahas dalam karya tulis ini adalah formalin. Penggunaan formalin sebenarnya tidak diizinkan ditambahkan ke dalam bahan makanan atau digunakan sebagai pengawet makanan, tetapi formalin mudah diperoleh di pasar bebas dengan harga murah, adapun landasan hukum yang ada adalah :
No
UU yang mengatur
Bahasan
1
UU Nomor 23 tahun 1996
tentang kesehatan
2
UU Nomor 7 tahun 1996
tentang pangan
3
UU Nomor 8 tahun 1996
tentang perlindungan konsumen
4
Kemenkes Nomor1168/menkes/per/X/1999
tentang bahan tambah makanan
5
SKMemperindag Nomor254/2000
tentang impor dan peredaran bahan berbahaya
(lihat pada Karim, S. (2008). Belajar IPA (136)


2.      PENGERTIAN FORMALIN
Seperti yang kita tahu bahwa saat ini dipasaran banyak sekali jenis dan macam-macam bahan pengawet, dari pengwet yang berbahan sintetis atau pengawet berbahan alami. Berbagai jenis pengawet tersebut tidak menjamin para pedagang menggunakan bahan pengawet yang di anjurkan oleh BPOM. Mereka malah lebih memilih menggunakan bahan yang bisa di bilang sangat berbahaya bagi tubuh manusia, bahan tersebut adalah Formalin.

Formalin dapat digolongkan sebagai zat pengawet. Zat pengawet ditambahkan pada berbagai sediaan obat bentuk cairan untuk mencegah pembusukan microbial. Formalin mempunyai banyak namakimia diantaranya adalah : Formol, Methylene aldehyde, Paraforin, Morbicid, Oxomethane,Polyoxymethylene glycols, Methanal, Formoform, Superlysoform, Formic aldehyde, Formalith,Tetraoxymethylene, Methyl oxide, Karsan, Trioxane, Oxymethylene dan Methylene glycol. Formalin dapat ditemukan atau di beli di took bahan kimia, toko bahan, alat laboratorium, dan dipasar-pasar tradisional. Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. (lihat pada Karim, S. (2008). Belajar IPA(137))

Didalam formalin mengandung sekitar 37 persen formaldehid dalam air, biasanya ditambah methanol hingga 15 persen sebagai pengawet . formalin dikenal sebagai bahan pembunuh hama (desinfektan) dan banyak digunakan  dalam industry. Nama lain dari formalin adalah farmol, methylene aldehyde, paraforin, mobicid, Oxomenthane, Formalith. Berat molekul Formalin adalah 30,03 dengan rumus HCOH. Karena kecilnya molekul ini memudahkan absorpsi dan distribusinya ke dalam sel tubuh. Gugus karbonil yang dimilikinya sangat aktif, dapat bereaksi dengan gugus –NH2 dari protein yang ada pada tubuh membentuk senyawa yang mengendap. Formalin biasanya di simpan di tempat yang terbuat dari baja tahan karat, aluminium murni, politilen atau piliester yang yang lipase fiberglass. (lihat di scibd.com. (2012, september 13)

Tapi selain sebagai pengawet mayat dan sebagai desinfektan kini formalin beralih fungsi menjadi obat pengawet makanan oleh para penjual-penjual yang hanya mementingkan keuntungan sesaat. Biasanya formalin di campurkan pada mie, bakso, tahu dan lain-lain agar makanan tersebut menjadi kenyal, warna lebih menarik dan tahan lebih lama.
Formalin tidak termasuk dalam daftar bahan tambahan makanan (Additive) pada Codex Alimentarius maupun yang dikeluarkan oleh Depkes. Hymas pengurus besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI). Meskipun di larang keras alasan para pedagang menggunakan formalin adalah karena harga yang relative terjangkau, makanan menjadi lebih menarik, dan makanan data disimpan lebih lama jika makanan tersebut tidak habis terjual pada hari itu juga. Padahal penggunaan formalin sudah dilarang keras oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), hampir setiap saat BPOM melakukan razia pasar untuk mencegah penyebaran formalin. Tapi kesadaran pedagang tentang bahaya formalin bagi tubuh manusia jika tertelan dan mengendap lama di dalam tubuh, membuat para pedagang tidak memperdulikan aturan yang sudah ditetapkan oleh BPOM. Kita sebagai orang awam harus tau bagaimana cara mengetahui mengetahui kandungan formalin dalam makanan dengan cara menggunakan kertas indikator pada air rendaman makanan tersebut. Kertas indikator ini dapat kita peroleh di apotek atau took obat. Bila kertas indikator kemudian berubah warna setelah di celupkan ke dalam rendaman, maka bisa di pastikan makanan tersebut menggunakan formalin.(lihat pada  siijolumut.blogspot.com)

Jika anda malas untuk membeli kertas indikator dan malas untuk melakukan percobaan di atas, anda juga bisa mengetaui langsung dengan cara mengamati makanan yang akan anda beli. contohnya seperti tahu yang mengandung formalin bentuknya sangat bagus, kenyal, tidak mudah hancur/rusak/busuk sampai tiga hari pada suhu kamar 250 C dan bertahan lebih dari 15 menit pada suhu lemari es (100) terlampau keras tapi tidak padat, dan bebau agak menyengat. Mie basah yang awet beberapa hari dan tidak mudah basi sampai dua hari pada suhu kamar 250 dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (100) bau agak menyengat, tidak lengket dan mie lebih mengkilat di bandingkan mie normal yang tidak mengandung formalin. Ayam berformalin tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar 250C, teksturnya kencang dan bau formalin menyengat atau tercium. Ikan bash yang warnanya putih bersih, kenyal, ingsangnya berwarna merah tua bukan merah segar, awet sampe beberapa hari, tidak mudah busuk. Bakso yang tidak rusak sampai lima hari pada suhu kamar 250, dan mempunyai tekstur yang sangat kenyal. Formalin tidak akan menjadi bahaya apabila kita memakai atau memanfatkannya dengan benar, dapun penggunaan formalin yang benar adalah :1) Pembunuh kuman sehingga dimanfaatkan untuk pembersih : lantai, kapal, gudang, dan pakaian, 2) Pembasmi lalat dan berbagai serangga lain, 3) Bahan pada pembuatan sutra buatan, zat pewarna, cermin kaca, dan bahanpeledak, 4) Dalam dunia fotografi biasanya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas, 5) Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea, 6) Bahan untuk pembuatan produk parfum, 7) Bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku, 8) Pencegah korosi untuk sumur minyak,  9) Bahan untuk insulasi busa, 10) Bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood). (lihat pada h3ndry-renza96.blogspot.com)

3.      BAHAYA FORMALIN
Seperti yang kita ketahui formalin adalah zat kimia, seperti kebanyakan zat kimia formalin juga mempunyai bahanya atau efek samping yang ditimbulkan entah itu sebagai bahan pengawet mayat atau sebagai desinfektan. Jika sebagai pengawet makanan dan desifektan saja bisa berbahaya apalagi jika tertelan dan masuk kedalam tubuh manusia? Disini saya akan menjelaskan tentang bahaya formalin bagi kesehatan.
Tanpa kita sadari formalin masuk ke dalam tubuh melalui dua jalan yaitu melalui mulut, dan melalui pernafasan (hidung). Polusi di udara seperti asap pabrik, asap kendaraan juga sebenarnya mengandung Formalin. Formalin di udara berbau tajam menyesakkan, merangsang hidung dan tenggorokan, dampak buruk bagi kesehatan pada orang yang terpapar dengan formalin dapat terjadi akibat paparan akut atau paparan yang berlangsung kronik.  Formalin sangat berbahaya bagi kesehatan, bagi tubuh manusia diketahui sebagai zat beracun, karsinogen ( menyebabkan kanker ), mutagen yang menyebabkan perubahan sel dan jaringan tubuh, korosif dan iritatif, Orang yang mengonsumsinya (akut) akan muntah, diare bercampur darah, kencing bercampur darah, dan kematian yang disebabkan adanya kegagalan peredaran darah. Uap dari formalin sendiri sangat berbahaya jika terhirup oleh saluran pernapasan dan juga sangat berbahaya dan iritatif jika tertelan oleh manusia.  Jika sampai tertelan, orang tersebut harus segera diminumkan air banyak-banyak dan diminta memuntahkan isi lambung.Gangguan pada persarafan berupa susah tidur, sensitif, mudah lupa, sulit berkonsentrasi. Pada wanita akan menyebabkan gangguan menstruasi dan infertilitas. Penggunaan formalin jangka panjang dapat menyebabkan kanker mulut dan tenggorokan.
Dalam jumlah sedikit, formalin akan larut dalam air, serta akan dibuang ke luar bersama cairan tubuh. Sehingga formalin sulit dideteksi keberadaannya di dalam darah. Imunitas tubuh sangat berperan dalam berdampak tidaknya formalin di dalam tubuh. Jika imunitas tubuh rendah atau mekanisme pertahanan tubuh rendah, sangat mungkin formalin dengan kadar rendah pun bisa berdampak buruk terhadap kesehatan. Usia anak khususnya bayi dan balita adalah salah satu yang rentan untuk mengalami gangguan ini. Secara mekanik integritas mukosa (permukaan) usus dan peristaltik (gerakan usus) merupakan pelindung masuknya zat asing masuk ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi zat berbahaya tersebut.Secara imunologik sIgA (sekretori Imunoglobulin A) pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal zat asing masuk ke dalam tubuh. Pada penelitian binatang menyebabkan kanker kulit dan kanker paru. Formalin disamping masuk melalui alat pencernaan dan pernafasan, juga dapat diserap oleh kulit. Formalin juga termasuk zat neurotoksik, karena bersifat racun dan  dapat merusak syaraf tubuh manusia dalam dosis tertentu. Informasi menurut sistem keamanan pangan terpadu menyebutkan bahwa jika formalin terminum minimal 30 ml (sekitar 2 sendok makan) dapat menyebabkan kematian. Konsumsi formalin pada dosis sangat tinggi dapat konvulsi (kejang-kejang), haematuri (kencing darah), haimatomesis (mutah darah) yang berakhir pada kematian. Injeksi formalin pada dosis 100 gr dapat mengakibatkan kematian dalam waktu 3 jam. (lihat pada h3ndry-renza96.blogspot.com)
Tetapi  Adakah sanksi hukum bagi produsen bahan makanan yang terbukti menggunakan formalin? Mungkin anda mengharapkan jika para produsen yang nakal di beri sangsi yang tegas, entah itu denda, penjara ataupun sangsi social yang bisa membuat mereka jera menggunakan formalin ataupun zat yang setara untuk pengawet makanan prouksi mereka. Tapi sayangnya harapan anda agaknya tidak akan terwujud untuk saat ini karena secara eksplisit tidak ada hukum tertulis yang mengatur sanksi hukum bagi kejahatan penyalahgunaan formalin. Namun jika ditilik dari kerusakan yang ditimbulkan, mereka patut menerima sanksi hukum, atau paling tidak, sanksi moral dari masyarakat. Hanya cara itu membuat mereka jera.
Sanksi hukum atau moral mestinya tidak hanya dikenakan kepada para penyalahguna formalin, tetapi juga pada produsen atau penjual bahan pengawet makanan dan pewarna yang membahayakan kesehatan manusia, terutama anak-anak. Sekarang bahan-bahan seperti itu juga beredar luas dan dijual bebas sampai ke desa-desa. Sebenarnya tidak ada yang salah pada formalin. Formalin yang digunakan secara tepat bisa bermanfaat bagi manusia, bukan malah membahayakan kehidupannya. Namun orang-orang yang tidak bertanggung jawab telah menggunakan formalin untuk meraih keuntungan diri sendiri, mengabaikan keselamatan orang lain.

PENANGANAN BILA TERPAPAR FORMALIN
Bila terkena hirupan atau terkena kontak langsung formalin, tindakan awal yang harus dilakukan adalah menghindarkan penderita dari daerah paparan ke tempat yang aman. Bila penderita sesak berat, kalau perlu gunakan masker berkatup atau peralatan sejenis untuk melakukan pernafasan buatan. Bila terkena kulit lepaskan pakaian, perhiasan dan sepatu yang terkena formalin. Cuci kulit selama 15-20 menit dengan sabun atau deterjen lunak dan air yang banyak dan dipastikan tidak ada lagi bahan yang tersisa di kulit. Pada bagian yang terbakar, lindungi luka dengan pakaian yag kering, steril dan longgar. 
Bilas mata dengan air mengalir yang cukup banyak sambil mata dikedip-kedipkan. Pastikan tidak ada lagi sisa formalin di mata. Aliri mata dengan larutan dengan larutan garam dapur 0,9 persen (seujung sendok teh garam dapur dilarutkan dalam segelas air) secara terus-menerus sampai penderita siap dibawa ke rumah sakit atau ke dokter. Bila tertelan segera minum susu atau norit untuk mengurangi penyerapan zat berbahaya tersebut. Bila diperlukan segera hubungi dokter atau dibawa ke rumah sakit.
Yang lebih menyulitkan adalah pemantauan efek samping jangka panjang. Biasanya hal ini terjadi akibat paparan terhadap formalin dalam jumlah kecil. Dalam jangka pendek akibat yang ditimbulkan seringkali tanpa gejala atau gejala sangat ringan. Jangka waktu tertentu gangguan dan gejala baru timbul. (lihat Hidayat, E. (2012, 3 8). siijolumut.blogspot.com.)
Cara Menghilangkan Kadar Formalin pada Makanan
Saya menyadari jika kehidupan kita sehari-hari lekat dengan penggunaan formalin, kita juga tidak mungkin untuk menyeleksi makanan satu persatu untuk mengecek atau mengetahui kadar formalin yang terkandung dalam makanan tersebut. Tapi kita masih bisa untuk menghilangkan atau mengurangi kadar formalin pada makanan yang telah kita beli di pasar-pasar atau di toko-toko. Menurut Dra. Sukesi M.Si, dosen Jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITS,
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi kandungan formalin dalambahan makanan dengan boleh dibilang tanpa tambahan biaya apapun, hanya dengan bagaimana kita memperlakukan itu sebelum dikonsumsi.
Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menghilangkan kadar formalin yang ada pada makanan? Disini saya akan mencoba untuk menjelaskan secara singkat kepada anda.
Ikan Asin
Cukup mudah kata Kesi menjelaskan, untuk proses deformalinisasi ikan asin, dapat dilakukan dengan cara merendam ikan asin tersebut dalam tiga macam larutan, yakni: air, air garam dan air leri. “Perendaman dalam air selama 60 menit mampu menurunkan kadar formalin sampai 61,25% dan dengan air leri mencapai 66,03% sedang pada air garam hingga 89,53%. Ini artinya hanya dengan perlakuan dan pengetahuan yang baik sebelum dikonsumsi maka kadar formalin akan berkurang,” katanya.
Memang, tambahnya, kita tidak dapat menghilangkan hingga 100% kadar formalin yang ada. Tapi paling tidak dengan makin berkurangnya kadar formalin dalam bahan makanan itu, maka untuk mengkonsumsinya akan relatif lebih aman. “Saya tidak mengatakan formalin itu aman digunakan sebagai pengawet, tapi mengurangi kadar formalin dalam bahan makanan yang mengandung formalin menjadi penting untuk diketahui dan dipahami,” katanya.
Tahu
Sedikitnya ada tiga cara penanganan untuk mengurangi kadar formalin, direndam dalam air biasa, dalam air panas, direbus dalam air mendidih, dikukus kemudian direbus dalam air mendidih dan diikuti dengan proses penggorengan. Hasilnya, berbeda-beda, terbaik merebusnya dalam air mendidih kemudian di ikuiti dengan proses penggorengan.
Mie dan Ikan Segar
Sedang untuk mie proses deformalinisasi terbaik adalah dengan cara merendam dalam air panas selama 30 menit, dimana hasilnya dapat menghilangkan kadar formalin hingga mencapai 100%. Adapun pada ikan segar, dapat dilakukan dengan merendam dalam larutan cuka 5% selama 15 menit. (lihat pada puskesmaspegandansemarang.wordpress.com)

4.    KESIMPULAN

Jika kita melihat apa yang sudah saya terangkan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa formalin adalah senyawa zat kimia yang tergolong sebagai zat pengawet yang  dapat bermanfaat dan dapat juga menjadi berbahaya. Formalin bisa digunakan sebagai desinfektan dan obat untuk pengawet mayat tetapi belakangan ini formalin beralih fungsi menjadi obat untuk pengawet makanan, karena formalin mudah didapatkan dan harganya relatife lebih murah hal itu menyebabkan para produsen lebih memilih menggunakan formalin dari pada obat pengawet makanan yang sudah di anjurkan oleh BPOM dan Kementrian Kesehatan. Meskipun penggunaan formalin sudah dilarang dan sudah di atur dalam undang-undang tapi undang-undang tersebut belum didukung dengan sangsi yang tegas, sehingga para produsen nakal masih berlenggang dengan enaknya menggunakan formalin.
Para produsen tersebut hanya memikirkan keuntungan saja, tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan karena tindakannya itu. Mencampurkan formalin dalam makanan sangatlah berbahaya bagi kesehatan manusia, dalam jangka pendek formalin akan larut dalam darah dan mengendap dan dikeluarkan dengan cairan pada tubuh kita. sedangkan dalam jangka panjang formalin dapat menyebabkan kebutaan, kangker kulit, kangker paru-paru, bahkan bisa menyebabkan kematian. Formalin juga termasuk zat neurotoksik, karena bersifat racun dan  dapat merusak syaraf tubuh manusia dalam dosis tertentu. Informasi menurut sistem keamanan pangan terpadu menyebutkan bahwa jika formalin terminum minimal 30 ml (sekitar 2 sendok makan) dapat menyebabkan kematian. Konsumsi formalin pada dosis sangat tinggi dapat konvulsi (kejang-kejang), haematuri (kencing darah), haimatomesis (mutah darah) yang berakhir pada kematian. Injeksi formalin pada dosis 100 gr dapat mengakibatkan kematian dalam waktu 3 jam. Menurut IPCS (International Programme on Chemical Safety), secara umum ambang batas aman di dalam tubuh adalah 1 miligram per liter. Jika kita melihat bahaya yang ditimbulkan kita bisa menyadari betapa berbahayanya penggunaan formalin dalam produk makanan, oleh karena itu kita harus mengetahui bagaimana cara memilih makanan yang bebas dari formalin, dengan cara yang mudah dan tentunya dapat bermanfaat. Seperti selogan yang sering saya dengar “Mencegah lebih baik dari pada mengobati”.
Dalam hubungannya dengan dampak negative Formalin, maka imunitas tubuh sangat memegang peranan dalam memblokade serangan senyawa-senyawa toksik dalam Formalin. Jika imunitas tubuh dalam kondisi rendah, sangat mungkin Formalin yang dengan konsentrasi rendah sekalipun akan dapat berdampak buruk terhadap kesehatan manusia.
Beberapa saran agar dapat hidup secara nyaman dan aman dengan Formalin, yang pertama adalah. usahakan tetap tenang dan memakai pikiran logis. Kita harus meningkatkan kewaspadaan serta kejelian dengan memperhatikan kualitas dan kondisi barang serta harganya. Yang kedua, teliti dan cermat sebelum mengkonsumsi makanan. Biasanya, makanan yang mengandung Formalin memiliki penampilan fisik yang sempurna, daging sudah tidak terlalu kenyal, berat makanan bertambah, dan tercium bau bahan kimia.Hal tersebut dapat dilakukan oleh orang awam sekalipun. Yang ketiga, Jika memungkinkan, pakailah bahan pengawet lain, seperti Natrium Benzoat yang berbentuk garam berkristal. Natrium Benzoat ini memang relative mahal, tetapi apalah artinya jika dibanding dengan kesehatan kita. Yang keempat, tingkatkan konsumsi makanan suplemen kesehatan sebagai pemblokade partikel racun yang masuk ke dalam tubuh, dan juga meningkatkan stamina dan imunitas tubuh dalam menghadapi keadaan lingkungan yang terburuk. (lihat pada Doerge, r. F. (1982). buku teks wilson dan gisvold kimia farmasi dan medisinal organik. dan  Sim-annisa-istiqomah.blogspot.com)
Daftar Pustaka
Doerge, r. F. (1982). buku teks wilson dan gisvold kimia farmasi dan medisinal organik. semarang: ikip semarang press.
Refrensi Media Masa
scibd.com. (2012, september 13). Retrieved november 2013, 2013, from
http://id.scribd.com/doc/96308184/Pengertian-Formalin:

Hidayat, E. (2012, 3 8). siijolumut.blogspot.com. Retrieved 11 7, 2013, from
http://siijolumut.blogspot.com/2012/03/uji-kandungan-formalin-pada-bakso-tahu.html

renza, H. (2013, 3 13). h3ndry-renza96.blogspot.com. Retrieved 11 7, 2013, from http://h3ndry
renza96.blogspot.com/2013/03/dampak-formalin-terhadap-kesehatan.html

Istiqomah, A. (2010, 04). Sim-annisa-istiqomah.blogspot.com. Retrieved 11 7, 2013, from http://sim
annisa-istiqomah.blogspot.com/2010/04/pengaruh-buruk-zat-formalin-bagi.html
semarang, P. (2012, 7 23). puskesmasmaspegandansemarang.wordpress.com. Retrieved 11 9, 2013,
from http://puskesmaspegandansemarang.wordpress.com/2012/07/23/cara-mengurangi-kadar-formalin-2/
Karim, S. (2008). Belajar IPA. Depok,Sleman,Yogyakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan
Nasional.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar