Senin, 30 Desember 2013

Perkembangan Kurikulum dan Permasalahannya




Oleh Aida Rosmaniar
Jurusan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan,Universitas Negeri Semarang

Abstrak
Kurikulum mempunyai peranan yang sangat penting dalam mewujudkan generasi yang berguna untuk nusa dan bangsa yang memiliki sifat tanggungung jawab,kreatif,ahli,dan menjadi pribadi yang inovativ. Kurikulum dapat di ibaratkan jantung pendidikan. Pendidikan merupakan ujung tombak kemajuan sebuah bangsa. Bangsa akan menjadi maju apabila memiliki sumber daya manusia yang berkualitas atau bermutu tinggi. Dalam hal ini kurikulum memainkan peran yang sangat dalam mewujudkan generasi yang handal, kreatif, inovatif,dan menjadi pribadi pribadi yang bertanggung jawab. Namun demikian perkembangan kurikulum sering kali menemukan banyak masalah yang memerlukan pertimbangan dan pemecahan tersendiri. Demi mewujudkan kualitas pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman,perlu adanya upayan penyempurnaan kurikulum. Kurikulum yang terakhir diterapakan adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan( KTSP) sebagai pengganti Kurikulu Berbasis Kompetensi(KBK).dan tahun ajaran 2013 giliran KTSP diperbaharui dengan kurikulum 2013. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang  Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 35 dan 36 yang menekankan perlunya peningkatan kualitas pendidikan nasiaonal.
Kata kunci           : kurikulum
1.     Pendahuluan
Istilah pendidikan sudah tidak asing lagi bagi banyak orang,namun meskipun demikian tidak banyak juga yang mengerti tentang apa itu kurikulum.
Kurikulum pada mulanya dari kata “curir” yang berarti “pelari” dan “curere” yang bermakna “tempat berpacu” yang dapat diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh pelari mulai dari “start” sampai “finish” untuk memperoleh mendali (dalam Mida,2013:13). Pengertian kurikulum senantiasa berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan ukuran suatu praktik pendidikan,jika dikaitkan dengan dunia pendidikan kurikulum mempunyai konsep meliputi: (a) Sebagai subtansi, yang dipandang sebagai rencana pembelajaran bagi siswa atau seperangkat tujuan yang ingin dicapai; (b) Sebagai sistem, merupakan bagian dan sistem persekolahan,pendidikan dan bahkan masyarakat; (c) Sebagai bidang studi, merupakan kajian para ahli kurikulum yang bertujuan untuk mengembangkan ilmu tentang kurikulum dan sistem kurikulum.
Kurikulum tidak ada begitu saja dan kemudian keberadaannya juga dibiarkan begitu saja,namun kurikulum perlu disusun dan disesuaikan dengan kebutuhan zaman yang ada. Karena pada dasarnya istilah kurikulum tidak hanya terbatas pada sejumlah mata pelajaran saja, tetepi mencangkup semua pengalaman belajar (learning experiences) yang dialami secara langsung oleh siswa dan mempengaruhi pribadinya.Pengertian kurikulum juga sering dikaitkan dengan beberapa dimensi seperti, dimensi ide, dimensi rencana, dimensi aktifitas, dan dimensi hasil.
Bagi siswa kurikulum berfungsi sebagai alat pendidikan yang harus  mengarahkan setiap peserta didik agar mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan,juga sebagai alat pendidikan untuk  menghasilkan pribadi-pribadi yang utuh,selain itu kurikulum juga harus mampu mempersiapkan peserta didik untuk ke jenjang selanjutnya supaya peserta didik memiliki kesempatan untuk memilih program-program belajar yang sesuai dengan minat dan bakat, memahami dan menerima potensi dan kelemahan yang dimilikinya.
Dalam pendidikan formal kurikulum memiliki peranan yang sangat strategis dan menentukan rangka pencapaian tujuan pendidikan. Sering kali dilakukan inovasi kurikulum untuk mengembangkan dan memperbiki kurikulum. Tetapi terlalu seringnya inovasi dilakukan mengakibatkan dampak positif dan negatif,seperti kita tau kurikulum memiliki peranan penting dalam menentukan kualitas pendidikan. Terjadinya pembaharuan pendidikan pada umumnya mempunyai kecenderungan mengemban misi untuk memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi.
Namun demikian perkembangan kurikulum seringkali menemukan banyak masalah yang seringkali memerlukan pertimbangan dan pemecahan tersendiri. Semua masalah tersebut disebabkan oleh berbagai kondisi yang ada,disesuaikan dengan tuntutan yang ada,yang didesuaikan dengan tuntutan dan prinsip kebutuhan yang perlu dipenuhi. Dalam perkembangan sejarah pendidikan di Indonesia sudah beberapa kali diadakan pembaharuan dan perbaikan kurikulum yang tidak lain semuanya bertujuan mencapai hasil yang maksimal.
1.     Perkembangan Kurikulum di Indonesia
Seperti kita tahu Indonesia sudah sering sekali melakukan perubahan kurikulum dalam pelaksanaan sistem pendidikan nasional, hal ini sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan nasional itu sendiri. Pembaharuan-pembaharuan dilakukan demi mencapai kemaksimalan dalam kualitas pendidikan di Indonesia dari kurikulum priode penjajahan Belanda, kurikulum priode penjajahan jepang, kurikulum pasca kemerdekaan, kurikulum priode 1964, kurikulum priode 1968, kurikulum priode 1975 kurikulum priode 1984, kurikulum priode 1994, kurikulum berbasis kompetensi, kurikulum tingkat satuan pelajaran dan yang sedang hangat diperbincangkan kurikulum 2013 (dalam Mida,2013:37).

Dari sini kita akan tahu seberapa besar pengaruh perubahan kurikulum terhadap kualiatas pendidikan nasional kita, saya tidak akan membahas dari awal sejarah perkembangan kurikulum di Indonesia. Saya mengambil sempel di sepuluh tahun terakhir ini, yang sudah mengalami tiga kali perubahan kurikulum dari KBK menuju KTSP dan beralih menjadi Kurikulum 2013.

2.     Perubahan Kurikulum Sepuluh Tahun Terakhir di Indonesia
Kurikulum Berbasis Kompetensi (2004-2006) Sebagai respon terhadap perubahan struktural dalam pemerintahan dari sentralistik menjadi desentralistik ada konsekuensi logis dilaksanakannya UU No.22 dan 25 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. Sehingga dikembangkan kurikulum baru yang diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Pendidikan berbasis kompetensi menitik beratkan pada pengembangan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas tertentu sesuai dengan peforma yang ditetapkan.

Pendidikan mengacu pada upaya penyiapan individu yang mampu melakukan perangkat komprtensi yang telah ditentukan. Implikasinya adalah perlu dikembangkan suatu kurikulum berbasis kompetensi sebagai pedoman pembelajaran. Kompetensi merupakan pengetahuan,keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus dapat memungkinkan seseorang untuk menjadi kompeten dalam arti memiliki pengetahuan,keterampilan,dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu (Puskur, 2002:55)

Awal 2006 uji coba KBK dihentikan munculah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran) kurikulum yang dikeluarkan oleh pemerintah  yang disusun oleh Badan Standar  Nasional pendidikan (BSNP) yang selanjutnya ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomer 22,23, dan 24 tahun 2006. Kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Dalam hal ini lembaga diberi kewengangan dan tanggung jawab secara luas untuk mandiri,maju dan berkembang berdasarkan kebijakan strategi manajemen pendidikan yang ditetapkan pemerintah dan ini merupakan kelebihan KTSP dari kurikulum sebelumnya. KTSP diharapkan mampu menciptakan tamatan yang kompeten dan cerdas dalam mengemban identitas budaya dan bangsanya.

KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan olrh masing-masing satuan pendidikan KTSP terdiri atas tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Dalam KTSP juga dikenal istilah Pengembangan Program. Pengembangan program dalam KTSP meliputi, program tahunan, program semester, program modul (pokok bahasan), program remidial serta program bimbingan konseling. Program tahunan merupakan program umum setiap mata pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang dikembangkan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.

Berdasarkan pada teori belajar tuntas adalah jika peserta didik mampu menguasai kompetensi atau mencapai tujuan pembelajaran minimal 65% dari seluruh tujuan pembelajaran. Dan keberhasilan kelas dapat dilihat apabila peserta didik yang mencapai minimal 65% sekurang-kurang 85% dari jumlah peserta didikyang ada dalam kelas tersebut. Adapun pelaksanaan pembelajaran dalam KTSP adalah pre tes,pembentukan kompetensi, dan pos tes.(dalam Mida,2013:47)
Selanjutnya muncul Kurikulum 2013, Beberapa hal baru yang terdapat pada kurikulum 2013 mendatang diantaranya kurikulum 2013 bersifat tematik dan integratif berbasis pada sains. Kompetensi yang ingin dicapai adalah kompetensi yang berimbang antara sikap,keterampilan,dan pengetahuan,disamping cara pembelajaranya yang holistik dan menyenangkan. Dimana proses pembelajarannya menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik, melalui penilaian berbasis tes dan portofolio saling melengkapi. Pada kurikulum baru ini guru tidak lagi dibebani dengan kewajiban membuat silabus pengajaran untuk setiap tahun.
3.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perubahan Kurikulum
Menurut Soetopo dan Soemanto (1991:40-41), terdapat sejumlah faktor yang dipandang mendorong perubahan kurikulum yaitu bebasnya sejumlah wilayah tertentu di dunia ini dari kekuasaan kaum kolonialis, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, dan pertumbuhan yang pesat dari penduduk dunia.
Dengan merdekanya negara-negara tersebut , mereka mulai merencanakan adanya perubahan  yang cukup penting didalam kurikulum dan sistem pendidikan yang ada. Disatu pihak perkembangan dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan yang di ajarkan sekolah menghasilkan teori-teori lama dengan sendirinya mendorong timbulnya perubahan dalam isi maupun strategi pelaksanaan kurikulum, hal ini juga menunjukan bahwa cara atau pendekatan yang telah digunakan selama ini perlu ditinjau kembali dan bila perlu dirubah agar dapat memenuhi kebutuhan akan pendidikan yang semakin besar.
Kurikulum dapat pula mengalami perubahan bila terdapat pendirian baru mengenai proses belajar,sehingga timbul bentuk-bentuk kurikulum seperti activity atau experice curriculum, programmedinstruction, pengajaran modul, dan sebagainya.
4.     Berbagai Masalah Kurikulum
Kurikulum senantiasa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, agar peserta out put dan peserta didik juga bisa dengan mudah menyesuaikan dengan perkembagan yang ada. Ada 4 (empat) masalah yang sering dihadapi meliputi masalah umum seperti, bidang cakupan, relevansi, artikulasi dan kemampuan transfer.

Pertama, J. G Slayor dan W. M Alexander, sebagaimana dikutip Olivia (1992), berpendapat bahwa :

“By scope is meant the breadth,variety, and types of education experiences that are to be provieded pupils as they progress through the programs”.

Untuk menentukan bidang cakupan tersebut, para ahli digadapkan pada beberapa permasalahan diantaranya: (a) pengorganisasian berbagai elemen dan hubungan antar elemen; (b) pesatnya perkembangan iptek; (c) penetapan prosedur tujuan; (d) pengambilan keputusan.

Kedua, B. O. Smith (dalam Olivia,1992) menyampaikan bahwa:

 ”The teacher is constantly asked: Why should I learn that? What is is the use of studying history? Why should I be  required to take biology? The intent of these questions is to ask what use one can make of them in everyday activities, only general answers are possible. We can and do talk about the relevance of subject matter to the decisions and activities that pupils will have make. We know among other things,they must: (a) Choose and follow a vocation; (b) Exercise the tasks of citizenship; (c) engaged in personal relationship; (d) take party in culture-carrying activities. The questions of the relefance points to the question of what is most assuredly useful”.

Dari kutipan diatas kita bisa mengetahui relevansi atau kesesuaian merupakan suatu peramasalahan lain yang cukup esensial dan harus mendapatkan perhatian serius dalam pengembangan kurikulum. Ini dikerenakan kata relevansi itu sendiri dikaitkan dengan masalah dunia kerja (vocation), kependudukan (citizenship), hubungan antar pribadi (personal relationship) dan berbagai aktivitas masyarakat lainnya yang menyangkut budaya, sosial,  politik dan sebagainya. Akan tetapi meski bagai manapun nampak jelas terlihat bahwa masalah relevansi berkembang menurut kegunaan dan kebermaknaan suatu kurikulum bagi masyarakat dan bangsa, bahkan bagi komunitas bangsa di sunia pada umumnya.

Ketiga, Artikulasi diartikan sebagai pertautan antara kelompok elemen atau unsur lintas tingkatan sekolah. Contohnya dapat dilihat antara SD dan SLTP, SLTP dan SMA, erta SMA dan Perguruan Tinggi, yang juga tak lepas dalam dimensi sekuens seperti halnya kontinuitas. Oliver (olivia,1992) menjelaskan pengertian artikulasi sebagia “artikulasi horizontal” atau “korelasi”, sedangkan kontinuitas sebagai “artikulasi vertical”. Dari pengertian ini dapat diketahui bahwa antara sekuens, kontinuitas, dan artikulasi terdapat kaitan satu dengan yang lainnya. Adapun artikulasi merupakan suatu rencana sekuens unit-unit materi pelajaran secara lintas tingkat.

Keempat, kemampuan trasfer. Pada hakikatnya sesuatu yang diberikan sekolah merupakan “proses pentransferan nilai” yaitu apapun yang dipelajari di sekolah seharusnya bisa diaplikasikan di luar sekolah, tatkala peserta didik sudah menamatkan pendidikannya. Dengan demikian, proses pendidikan di luar sekolah harus dapat memperkaya kehidupan peserta didiknya.

Para ahli pendidikan seperti Thorndike, Daniel dan L. N. Tanner serta Taba menyepakati bahwa jika guru hendak mentransfer nilai-nilai maka terlebih dahulu harus diperhatikan prinsip-prinsip umum dari proses transfer yaitu: (a) Transfer merupakan hati nurani pendidikan; (b) Proses transfer memungkinkan untuk dilakukan; (c) Proses transfer dimalai dari situasi yang lebih dekat, ke situasi luar kelas yang lebih jauh dan luas; (d) Hasil transfer akan lebih bermakna (meaningful) jika guru membantu siswa dalam menderivasi, generalisasi, serta menetapkan generalisasi tersebut; (e) Secara umum, dapat dikatakan bahwa ketika siswa memperoleh pengetahuan bagi dirinya, proses transfer tersebut telah berhasil.

Trnsferability merupakan prinsip dari pengajaran dan sekaligus juga prinsip dari kurikulum itu sendiri. Pada saat membicarakan metode mengajar  transferabality, berarti kita memasuki wilayah proses pengajaran. Pada saat menganalisis hal yang di trasferkan, maka kita telah memasuki ranah kurikulum. Oleh karena itu, para pengembang kurikulum menentukan tujuan, menyeleksi isi atau materi, dan memilih strategi pengajaran yang mengarah pada pendayagunaan proses transfer secara maksimal. Selanjutnya, dalam perencanaan evaluasi kurikulum juga harus dimasukan ukuran tingkat transfer dari berbagai sigmen dalam kurikulum.

Beberapa Masalah Khusus dalam  kaitannya dengan pengembangan kurikulum, beberapa masalah berikut perlu di pahami, yaitu: (a) Masalah yang berhubungan dengan tujuan dan hasil-hasil kurikulum yang diharapkan oleh sekolah; (b) Masalah yang berhubungan denagn organisasi kurikulum; (c) Masalah yang berhubungan dengan proses penyusunan dan revisi kurikulum.

5.     Kesimpulan
Berdasarkan paparan diatas dapat kita ketahui bahwa kurikulum adalah sesuatu yang sangat vital dalam pendidikan.oleh karena itu kurikulum harus senantiasa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Namun demikian perkembnagan kurikulum seringkali menemukan banyak masalah yang memerlukan pertimbnagan dan pemecahan tersendiri.

Dalam perjalanan sejarah pendidikan di Indonesia kurikulum sudah beberapa kali diadakan perubahan dan perbaikan kurikulum yang semua itu tujuannya adalah tidak lain untuk perkembangan dan kemajuan zaman, guna mencapai hasil yang maksimal. Dan tentu saja perubahan kurikulum tidak dilakukan secara sertameta. Perubahan kurikulum dibutuhkan proses yang cukup panjang dan  pemikiran yang matang.

Upaya penyempurnaan kurikulum tidak lain juga demi mewujudkan sistem pendidikan nasional yang kompetitif dan relevan yang senantiasa menjadi tuntutan. Hal ini sejalan dengan UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 35 dan 36 yang menekankan perlunya peningkatan standar nasional pendidikan sebagai acuan kurikulum secara berencana dan berkala dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Kurikulum yang terakhir diterapkan di sekolah adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan, sebagai pengganti dari Kurikulum Berbasis Kompetensi yang menerapkan kompetensi menitik beratkan pada pengembangan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas tertentu sesuai dengan peforma yang ditetapkan.

Dan kini tahun ajaran 2013 giliran KTSP diperbaharui dengan kurikulum  baru yang dikenal dengan Kurikulum 2013 yang  bersifat tematik dan integratif berbasis pada sains. Kompetensi yang ingin dicapai adalah kompetensi yang berimbang antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan,disamping cara pembelajaranya yang holistik dan menyenangkan. Dimana proses pembelajarannya menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik, melalui penilaian berbasis tes dan portofolio saling melengkapi.

Tentunya dari perkembangan kurikulum yang da banyak sekali ditemukan permasalahan-permaslahan yang menyakut perkembangan kurikulum tersebut. Diantara masalah-maslah tersebuat digolongkan menjadi masalah umum dan masalah khusus diamana dari dua bagian itu masih terdapat sub-sub masalah lain yang perlu mendapatakan perhatian lebih dari pemerintah dan pengembang kurikulum.


Daftar Pustaka
Muzamiroh. Mida. 2013. Kupas Tuntas Kurikulum 2013. Jakarta:Kata Pena
Soetopo dan Soemanto. 1991. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum                            sebagai Subtansi Problem Administrasi Pendidikan.                            Jakarta:Bumi Aksara
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional  No.20 Tahun 2003

Tidak ada komentar:

Posting Komentar