Senin, 30 Desember 2013

Budaya Menyontek dalam Pendidikan

Budaya Menyontek dalam Pendidikan
RianRifqiAriyanto
Kurikulum dan Teknoliogi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, UniversitasNegeri Semarang

Abstrak

Menyontek dalam dunia pendidikan sudah tidak asing lagi, bahkan sudah tidak dianggap suatu pelanggaran tetapi dianggap sebagai kebiasaan. Akibatnya banyak kelulusan dengan nilai tinggi tetapi tidak mempunayai kualitas yang sesuai dengan kelulusannya dan banyak lulusan perguruan tinggi yang tidak bisa meringankan beban rakyat, melainkan menambah beban rakyat. Buktinya, banyak lulusan peguruan tinggi yang menggangur. Menyontek merupakan salah satu penyebab penurunan kualitas pendidikan. Masalah ini harus dicegah sedini mungkin agar tidak menular pada generasi selanjutnya. Tulisan ini berusaha menyelesaikan masalah menyontek dengan metode pustaka, yaitu sumber-sumber yang digunakan berupa kutipan dan rujukan dari jurnal, buku, media massa, dan internet.Hasilnya yaitu harus adanya kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Ketiga lembaga ini merupakan suatu sistem dalam mempengaruhi pembentukan kepribadian anak. Oleh karena itu, ketiga sistem ini harus bisa saling membantu satu dengan yang lain. Jadi, sekolah, keluarga, dan masyarakat yang bisa mengatasi masalah menyontek.

Kata kunci : kebiasaan, menyontek, mencegah, kerja sama

1.      Pendahuluan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana yang dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang terpendam agar bisa hidup dengan baik dalam masyarakat. Seseorang dikatakan berhasil dalam menuntut ilmu jika sudah mengusai materi dan bisa mengaplikasikannya, lebih hebat lagi jika mendapatkan prestasi. Tetapi, para siswa salah dalam menafsirkan, mereka menganggap kalau sudah mendapat prestasi berarti sudah dianggap berhasil. Akhirnya mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan prestasi tersebut. Dalam mencapainya, mereka ada yang menggunakan cara sehat, seperti bersungguh-sungguh belajar dan ada juga yang menggunakan cara yang tidak sehat, seperti menyontek kerjaan teman. Disini saya ingin memfokuskan pembahasan tentang mendapatkan prestasi dengan cara yang tidak sehat, yaitu :(1) tentang sebab-sebab dari siswa melakukan tindakan menyontek; (2) dampak dari tindakan menyontek; (3) peran sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam mengatasi masalah menyontek.
Masalah menyontek dalam dunia pendidikan sudah tidak asing lagi di telinga kita, khususnya para pelajar. Menyontek merupakan masalah kecil tetapi jika terus-menerus dibiarkan tanpa adanya usaha untuk mencegahnya, maka akan menjadi suatu budaya dalam dunia pendidikan. Sekarang, menyontek sudah tidak dianggap masalah atau pelanggaran bagi siswa tetapi mereka menganggap menyontek itu suatu kebiasaan dalam dunia pendidikan dan guru pengawas yang tahu juga membiarkan atau ditegur dengan mengambil kertas yang dibuat menyontek, kemudian disuruh mengerjakan lagi. Tetapi setelah waktu mengerjakan tinggal 10 menit, siswa yang menyontek tadi belum selesai, akhirnya meminta jawaban kepada temannya yang sama kode soalnya dan pengawasnya juga membiarkan(lihatkompasiana,08/05/12). Selainitu, menyontekjugaada yang disuruholeh guru denganperjanjiantidakbolehmemberitahukepadasiapa pun (lihat VIVAnews.com, 02/06/11). Ada juga yang mengungkapkan kasus menyontek justru dimusuhi (lihat detiknews, 16/06/11), dan masih banyak lagi yang lainnya.

2.      Hal-hal yang Menyebabkan Siswa Menyontek
Menyontek biasanya dilakukan oleh siswa yang ingin berprestasi tetapi menggunakan jalan pintas atau melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan, baik secara lisan maupun tulisan.Tindakan-tindakan yang termasuk menyotek adalah meliha tbukupelajaran, melihat catatankecil yang telah dipersiapkan sebelumnya yang berisirumus-rumus, tanda-tanda, ringkasan, danhal-hal yang berhubungandenganmateri, melihat pekerjaan orang lain, atau menyamakan pekerjaannya sendiri dengan pekerjaan temannya. Menyontek biasa dilakukan di catatankecil, tangannya sendiri, di bolpoin, baju, dan disuatu tempat yang orang lain tidak mengetahuinya khususnya guru pengawas menurut Jusuf(1986 : 89).
Ulangan tertulis merupakan ulangan yang rawan sekali untuk melakukan penyontekan. Apalagi kalau materi yang diujikan begitu banyak, sehingga menyebabkan siswa menjadi malas belajar menurut Jusuf (1986 : 89). Akhirnya siswa menulis catatan kecil untuk menyontek atau menggantungkan temannya yang pintar.Siswa yang biasanya menyontek, dia tidak segan-segan untuk berbagi dengan temannya yang lain karena dia merasakan apa yang dirasakan temannya. Dan jarang sekali kalau mengkhianati temannya. Di sini tampak, bahwa ketidak jujuran tehadap guru dianggap tidak penting disbanding ketidak jujuran terhadap temannya sendiri, dia lebih memilih kesetiakawanan.
Sebab-sebab siswa menyontek menurut Jusuf (1986: 89-90) yaitu : (1). Belum menguasai materi, siswa yang tidak menguasai materi dikarenakan tidak mendengarkan penjelasan guru, seperti ngobrol dengan temannya, tidur, melamun atau bermain sendiri, ada juga yang sudah mendengarkan dengan serius tetapi masih juga tidak faham mungkin karena ada gangguan dalam pikirannya, seperti telat berfikir; (2). Malas belajar karena ketidak fahamannya dengan materi. Malas adalah sifat yang selamanya ada dalam diri manusia. Tetapi tergantung pada orangnya, jika bisa melawan rasa malas itu, maka dia akan sukses atau bisa mencapai apa yang dia inginkan, tetapi kalau tidak bisa melawan, maka sifat malas itu akan menjadi sahabatnya dan akan menjerumuskan kepada kegagalan. Selain sifat asli manusia, malas juga bisa disebabkan karena tidak atau kurang memahaminya materi. Kalau siswa kreatif, pasti dia akan tanya kepada temannya yang bisa, namun semua siswa tidak seperti itu, tapi ada juga yang cuek dengan hal tersebut, yaitu siswa-siswa yang tidak menghargai proses, siswa yang tidak pintar, dan siswa yang suka bergantung pada temannya;(3). Tuntutan guru yang terlalutinggi, yaitu soal yang diberikan terlalu sulit atau soalnya tentang materi yang siswa belum faham; (4).Pengawasan yang kurang ketat. Kecurangan terjadi karena adanya niat dan kesempatan. Dua hal ini merupakan komponen dalam hal melakukan kecurangan yang saling berkaitan dan tidak bias dipisahkan satu sama lain.

3.      DampakdariMenyontek
Adapun dampak dari menyontek yaitu : (1). Kebodohan. Orang menyontek itu mencontoh pekerjaan orang lain, hasil yang didapatkan tidak dari pemikirannya sendiri, melainkan dari orang lain. Sehingga orang yang menyontek itu tidak mendapatkan apa-apa kecuali nilai yang baik jika menyonteknya beruntung; (2). Tidak percaya diri. Orang yang menyontek tidak hanya orang yang tidak faham sama sekali, melainkan ada juga yang sudah faham, tetapi dia tidak percaya diri. Akibatnya dia menyontek. Jika dilakukan secara terus menerus, maka akan menjadi kebiasaan. Ini bisa diambil kesimpulan bahwa orang yang sering menyontek itu tidak percaya diri, tidak percaya dengan kemampuannya sendiri; (3). Bergantung pada orang lain. Manusia itu mahkluk sosial, tetapi tidak selamanya bergantung dengan orang lain karena tidak selamanya ada orang yang selalu menolong kita; (4). Kecanduan. Menyontek itu “enak”, tidak usaha tetapi mendapatkan hasil yang bagus. Oleh sebab itu, orang yang sudah pernah menyontek pasti suatu saat akan menyontek lagi.

4.      PeranSekolah, Keluarga, danMasyarakatdalamMengatasiMasalahMenyontek

Peran Sekolah
Sekolah adalah suatu lembaga yang berfungsi untuk menyampaikan dan menerima pelajaran sesuai dengan tingkatannya dan juga mendidik anak agar bisa menjadi orang yang memiliki akhlakul karimah dan berguna di masa yang akan datang. Peran sekolah disini yaitu mensosialisasikan dan mengimplementasikan tujuan dari sistem pendidikan nasional yang termaktub dalam UU NO 20 TH 2003 “bahwa mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta tanggung jawab
Kualitas guru, kesesuaian guru dengan kemampuan anak, metode pengajaran, sarana dan prasarana, keadaan ruangan, pelaksanaan tata tertib, dan  sebagainya. Semua itu dapat mempengaruhi keberhasilan belajar anak.Apabila tata tertib di sekolah tidak berjalan dengan baik, maka kepatuhan siswa terhadap guru kurang, dan akibatnya anak tidak sungguh-sungguh dalam belajar, baik di sekolah maupun di rumah.Dengan demikian prestasi anak menjadi rendah. Begitu juga dengan jumlah siswa per kelas terlalu banyak (50-60 orang), dapat mengakibatkan pembelajaran tidak efektif, hubungan guru dengan siswa terasa jauh, akibatnya kurang akrab, guru sulit mengontrol anak, murid menjadi acuh terhadap guru, sehingga guru sulit memotivasi siswanya menurut Dalyono (2009).
Tugas seorang pelajar adalah belajar.Oleh karena itu, guru harus bisa memotivasi siswanya untuk selalu belajar. Di dalam belajar ada beberapa prinsip  yang harus dipenuhi agar bisa berhasil dalam belajar menurut Dalyono (2009 : 51-55), yaitu : (1). Kematangan jasmani dan rohani. Kematangan jasmani yaitu kematangan dalam hal fisik.Artinya, umur serta kondisi fisik siswa sudah cukup untuk belajar materi yang dipelajari.Sedangkan kematangan rohani yaitu kematangan dalam hal psikologis atau mental siswa.Misalnya kemampuan berfikir, ingatan, analisis, dan sebagainya. Seorang anak yang akan masuk SD minimal harus berumur 6 tahun, fisik, dan mentalnya sudah cukup untuk menerima pelajaran di kelas satu SD. Hal ini merupakan dasar untuk masuk SD untuk dapat mengikuti dengan pelajaran dengan baik. Apabila anak belum memiliki kematangan yang cukup, maka anak akan kesulitan menangkap pelajaran yang disampaikan. Akibatnya anak akan bergantung pada temanya. Hal lain tentang kematangan dalam belajar adalah seorang guru harus bisa mengetahui kemampuan anak dalam belajar.  Misalnya, siswa SD sudah diberi mata pelajaran B.Inggris, ilmu ukur ruang, dan bilangan negatif. Seharusnya mata pelajaran seperti itu diberikan  untuk siswa SMP karena anak SD belum cukup matang untuk mengikuti mata pelajaran itu dengan baik. Begitu juga dengan pelajaran filsafat dan logika tidak cocok untuk siswa SMP dan SMA, melainkan untuk perguruan tinggi;(2). Memahami tujuan. Setiap orang belajar harus mengatahui tujuannya, untuk apa dia belajar dan apa manfaat untuk dirinya maupun orang lain. Prinsip ini sangat penting dalam belajar, agar proses yang dilakukan cepat selesai dan dan bisa menggapai apa yang diinginkan. Belajar tanpa tujuan, belajarnya akan asal-asalan, tidak sistematis, dan tidak mempunyai gairah untuk belajar. Seperti yang dikatakan Drs. M. Dalyono (2009 : 53) tentang belajar tanpa tujuan :

... orang yang belajar tanpa tujuan ibarat kapal berlayar tanpa tujuan, terombang-ambing
tak tentu arah yang dituju. Sehingga akhirnya bisa terlanggar batu karang atau terdampar
ke suatu pulau”  

Jadi, orang yang mempelajari sesuatu itu harus mengetahui sebab dari mempelajari, yang ingin di dapat, dan manfaat yang bisa diambil, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Jika tidak mengetahui, maka akan sis-sia tidak ada gunanya, bahkan rugi tenaga dan waktu;(3). Memiliki kesungguhan.Bila sudah mengetahui tujuannya, selanjutnya yaitu kesungguhan untuk mencapainya. Belajar tanpa kesungguhan,  hasil yang diperoleh kurang memuaskan. Sebaliknya, belajar dengan penuh kesungguhan akan memperoleh hasil yang maksimal dan bisa efektif dalam penggunaan waktu. Misalnya, seorang siswa SMA tidak pernah belajar dengan sungguh-sungguh, baik di sekolah maupun di rumah.Apabila ada pekerjaan rumah (PR) dan tugas tidak pernah dikerjakan dengan baik, yang penting mengerjakan dan mengumpulkan. Akibatnya akan memperoleh nilai yang kurang baik, berbeda dengan temannya yang sungguh-sungguh;(4). Ulangan dan latihan. Dalam kata mutiara arab menyebutkan “Manusia itu tempatnya lupa dan salah”, dan kata orang jawa “ngelmu iku kelakone kanthi laku” maksutnya ilmu itu bisa masuk dalam pikiran jika dilakukan atau diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan dua kalimat di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar ilmu itu harus diulang-ulang dan diaplikasikan atau dilatih. Jika sudah sering diulang dan dilatih, maka ilmu tersebut akan meresap dalam otak. Sehingga akan dikuasai sepenuhnya dan sukar dilupakan. Bagaimanapun pintarnya seseorang pasti akan lupa bila tidak sering mengulang dan melatihnya. Oleh karena itu, prinsip ini juga sangat penting dalam proses belajar. Mengulang pelajaran adalah salah satu cara untuk membuat berfugsinya ingatan. Misalnya, belajar bahasa asing.Menghafal kosa kata harus diulang berkali-kali membacanya agar benar-benar hafal dan melekat dalam ingatan.Begitu pula dengan belajar matematika, harus banyak-banyak berlatih dalam memecahkan soal agar terbiasa dan mahir dalam menyelesaikan soal dengan benar.
Tegasnya, semua bahan yang dipelajari memerlukan pengulangan dan pelatihan agar benar-benar dikuasai secara maksimal. Dengan kata lain, orang belajar harus ada ulang dan latihan.

Peran Keluarga
Pengertian keluarga menurut Shochib (2000: 24-25) dapat ditinjau dari dua dimensi, yaitu dimensi hubungan darah dan dimensi hubungan sosial. Keluarga dalam dimensi hubungan darah merupakan suatu kesatuan sosial yang tercipta karena adanya hubungan darah antara satu dengan lainnya.Berdasarkan dimensi ini, keluarga dapat dibedakan menjadi dua, yaitu keluarga inti terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang belum nikah, dan keluarga besar yang terdiri dari beberapa keluarga inti. Sedangkan keluarga dalam dimensi hubungan sosial merupakan suatu kesatuan sosial yang tercipta karena adanya interaksi secara terus menerus sehingga menimbulkan kepedulian antara satu sama lain, meskipun tidak ada hubungan darah. Berdasarkan dimensi ini, keluarga dibagi menjadi dua, yaitu keluarga psikologis dan keluarga pedagogis. Keluarga psikologis merupakan sekumpulan orang yang hidup bersama di suatu tempat dengan jangka waktu yang lama, sehingga menimbulkan suatu hubungan batin, saling perhatian, saling tolong-menolong, dan saling menyayangi, Soelaeman (dalam Shochib 2000 : 17). Sedangkan keluarga pedagogis merupakan sekumpulan orang yang bersatu dalam persekutuan hidup yang tercipta karena adanya kasih sayang antara dua jenis manusia dengan jalan pernikahan sebagai pengukuhan, da bertujuan untuk saling menyempurnakan diri,Soelaeman (dalam Shochib 2000 : 17-18)
Berdasarkan dimensi-dimensi di atas, dapat disimpulkan bahwa lingkup keluarga itu luas, tidak hanya ayah dan ibu, melainkan lebih dari itu, seperti yang telah disebutkan di atas.Tetapi ayah dan ibu merupakan anggota terpenting dalam keluarga dan paling berpengaruh terhadap kepribadian anak.
Keutuhan orang tua (ayah dan ibu) sangat dibutuhkan dalam keluarga untuk membantu membimbing anak menjadi baik.Keluarga yang “utuh” mempunyai peluang besar untuk memberi kepercayaan terhadap anak.Karena orang tua merupakan unsur esensial dalam pembentukan kepribadian anak. Kepercayaan yang diberikan akan berakibat pada arahan, bimbingan, dan bantuan orang tua bisa menyatu dan membuat anak menjadi mudah dalam menangkap makna dari upaya yang dilakukan. Keluarga dikatakan “utuh” apabila anggota keluarga lengkap dan para anggotanya juga merasakan keutuhannya, khususnya anak-anak. Artinya, apabila ada salah satu anggota keluarga yang tidak ada, maka angota yang lain harus bisa merangkap peran anggota yang tidak ada, agar pengaruh, arahan, bimbingan, dan sistem nilai yang diberikan orang tua tetap dihormati dan mewarnai kepribadian anak-anaknya.
Keluarga adalah lingkungan pertama dan paling utama dalam mendidik anak agar anak bisa hidup dengan baik dan diterima oleh masyarakat dimana ia tinggal. Termasuk mendidik anak menjadi dewasa mandiri dalam kehidupannya.Oleh karena itu, anggota keluarga khususnya kedua orang tua harus memberi contoh yang baik kepada anaknya. Mencegah itu lebih baik dari pada mengobati menurut J. Drost (2006 : 26). Artinya orang tua harus menanamkan nilai-nilai kepribadian yang sesuai dengan agama dan negara sejak dini, agar anak mempunyai benteng untuk mencegah pengaruh dari luar yang bisa merusak kepribadian anak. Meskipun anak sudah dimasukkan dalam lembaga sekolah, bukan berarti tugas orang tua selesai tetapi orang tua masih mempunyai peranan penting dalam mendukung lembaga sekolah, seperti mengawasi, mengontrol, dan mendidik anak di rumah. Karena anak belajar di sekolah maksimal hanya 7 atau 8 jam, selebihnya anak berada di lingkungan keluarga dan masyarakat menurut J. Drost (2006 : 27) . Sebagai orang tua harus bisa mengetahui sifat, bakat, dan minat  yang dimiliki anak, meskipun ada yang bilang “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Tetapi tidak semua sifat orang tua sama persis dengan anaknya. Oleh karena itu, orang tua jangan menyamakan dan memperlakukan  anaknya seperti ia waktu kecil karena zamannya sudah berbeda.  Misalnya orang tua waktu kecil kalau nakal langsung dipukul atau diberi hukuman. Tetapi jika tindakan itu diterapkan pada anak zaman sekarang, maka akan tambah nakal, bahkan sampai berani melawan orang tuanya. Jika orang tua sudah mengetahui sifat yang dimiliki anak, maka orang tua harus bisa menentukan jenis pendidikan yang sesuai dengan sifat anaknya.Adakalanya orang tua mengikuti kehendah anaknya tetapi masih dalam pengawasannya disebut pendidikan partisipatoris.Sedangkan orang tua yang memberi perintah pada anaknya atau anak mengikuti kehendak orang tua disebut pendidikan represif.
Sebagai orang tua harus bisa menerima anaknya dengan apa adanya. Artinya orang tua menerima kelebihan dan kekurangan yang dimiliki anak, dan memberi tuntutan yang sesuai dengan kemampuan anak. Sebaliknya, apabila orang tua tidak bisa menerima, orang tua akan bertindak seenaknya tidak memikirkan kondisi anak atau kemampuan anaknya, akibatnya anak akan merasa tertekan. Misalnya, di sekolah anak dituntut untuk menjadi juara di kelas, sedangkan kemampuan anak biasa-biasa saja. Akibatnya anak merasa tertekan dan akhirnya anak menghalalkan segala cara untuk memenuhi tuntutan orang tua, seperti menyontek menurut J. Drost (2006 : 28-29).
Pola represif atau tuntutan kadang perlu diperlukan, tetapi tidak pada semua aspek.Untuk menuntut kepada anak, orang tua harus mengetahui kemampuan yang dimiliki anak agar anak tidak merasa terbebani. Jika anak merasa terbebani, maka kejiwaan anak akan terganggu, selalu dibayang-bayangi hukuman kalau tidak bisa melaksanakannya, dan akibatnya anak menjadi orang penakut. Orang tua harus bisa tegas dalam membimbing anak, yang perlu dituntut harus dituntut.Misalnya, anak malas. Orang tua harus tegas menyuruh anak untuk belajar, karena tugas seorang pelajar adalah belajar dan orang tua harus mendampingi dan memberi tahu apa yang belum difahami anak di sekolah.
Bimbingan orang tua didasarkan pada kepercayaan anak, kecuriagaan pada anak.Bimbingan harus sessuai dengan kemampuan dan kenyataan pada anak.Apabila anak berbuat kesalahan, orang tua jangan langsung memberi hukuman kepada anak.Pola pendidikan seperti ini adalah salah, karena anak tidak diberi kesempatan untuk berbuat salah. Hal itu akan membuat anak menjadi panakut dan tidak berani untuk mencoba. Menunggu komando.Orang seperti itu tidak bertanggung jawab karena hanya menjadi “pembeo”. Apabila anak berbuat salah, orang tua memberi tahu apa kesalahannya, kemudian dibantu untuk memperbaiki kesalahannya. Dari kesalahan itu, anak mendapat pengetahuan baru dan diharapkan kesalahan itu tidak terulang lagi.Namun, apabila sudah dibimbing tetapi anak sengaja masih melakukan kesalahan, maka perlu ditindak lanjuti.
Hal lain yang perlu diperhatikan orang tua adalah menghargai pribadi anak. Anak memang butuh kasih sayang, perhatian, dan perlindungan.Tetapi tidak selamanya anak bergantung pada orang tua. Oleh karena itu, orang tua harus mengajarkan kemandirian, memberi kesempatan pada anak untuk mencapai apa yang diinginkannya. Orang tua juga harus bisa membuat anak merasa senang jika berada di rumah agar anak tidak sering pergi keluar bergaul dengan orang-orang yang tidak baik. Anak boleh saja keluar, tetapi orang tua harus tetap mengawasi, dan mengontrol anaknya agar tidak berpengaruh dengan hal-hal yang buruk, seperti minum-minuman keras, tawuran, dan lain sabagainya menurut J. Drost (2006 : 30)
                                                      
Peran Masyarakat dan Lingkungan Sekitar
Selain sekolah dan keluarga, masyarakat juga sangat mempengaruhi kepribadian anak dan menentukan prestasi belajar anak. Apabila di sekitar tempat tinggal anak keadaan masyarakatnya berpendidikan tinggi dan bermoral baik, hal ini akan mendorong anak untuk lebih giat belajar. Tetapi sebaliknya, apabila tinggal di sekitar anak-anak nakal, tidak bersekolah, dan pengangguran, hal ini akan mengurangi motivasi anak dalam belajar dan bisa menghambat anak dalam menggapai cita-citanya menurut Dalyono (2009 : 38).
Keadaan lingkungan fisik juga dapat mempengaruhi prestasi belajar anak.Keadaan lingkungan, bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas, iklim, dan sebagainya. Misalnya, rapatnya bangunan rumah penduduk, keadaan lalu lintas yang ramai, suara gaduh orang sekitar, suara pabrik, suara kereta api, polusi udara, iklim yang terlalu panas, semuanya itu akan mempengaruhi semangat belajar. Sebaliknya, tempat tinggal yang sepi, sejuk, dan tenang bisa mendorong semangat belajar anak menurut Shochib (2000 : 46).

5.      Kesimpulan
Berdasarkan pada analisis dan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa menyontek adalah suatu tindakan yang bisa membuat kita menjadi orang yang tidak bermoral. Awalnya dianggap biasa, tetapi jika dilakukan secara terus menerus akhirnya akan menjadi luar biasa. Masalah ini sudah mengakar dalam jiwa setiap pelajar, hanya sedikit orang yang benar-benar berpikir dari pemikirannya sendiri. Oleh karena itu, masalah ini harus ditangani secepat mungkin, agar tidak menular kepada generasi selanjutnya.
Sebab dari menyontek yaitu belum menguasai materi, malas belajar, banyaknya tuntutan, pengawasan yang kurang ketat. Akibatnya anak menjadi bodoh, tidak percaya diri, suka bergantung pada orang lain, dan kecanduan ingin mengulanginya lagi. Setelah diketahui sebab dan akibatnya, salanjutnya memutuskan kesimpulannya, yaitu kerjasama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Ketiga lembaga ini sangat mempengaruhi kepribadian anak. Sehingga ketiga lembaga inilah yang bisa menyelesaikan masalah menyontek. Di sekolah anak dididik untuk menjadi orang yang pintar dan bermoral, di rumah orang tua juga harus bisa mendukung, mengontrol, dan membantu anak agar bisa mencapai apa yang dicita-citakan. Selain sekolah dan keluarga, masyarakat sekitar juga harus menudukung, memberikan contoh yang baik, mengontrol, dan memotivasi agar anak mendapatkan tindakan yang sama, baik sekolah, keluarga, dan masyarakat.


 Daftar Pustaka


JUSUF, T. (1986). Kesukaran-kesukaran dalam Pendidikan. Jakarta: Balai Pustaka.
Shochib, D. M. (2000). Pola Asuh Orang Tua untuk Membantu Anak Mengembangkan Disiplin Diri. Jakarta: RINEKA CIPTA.
Dominique, Papa.Murid Ketahuan Mencontek, Malah Dibela Kepala Sekolah.Diunduh di http://edukasi.kompasiana.com/2012/05/07/murid-ketahuan-mencontek-malah-dibela-kepala-sekolah-461351.html, tanggal 22 Oktober 2013
Lismawati, Ita F. Malau dan Dwifantya Aquina.2013. Siswa Dipaksa Mencontek, Kepsek Dipanggil. Diunduh dihttp://metro.news.viva.co.id/news/read/224214-siswa-dipaksa-mencontek--kepsek-dipanggil, tanggal 22 Oktober 2013
Rivki, Eiger.2011. Aneh Bila Pengungkap Kasus Mencontek Massal Dimusuhi.Diunduh di http://news.detik.com/read/2011/06/16/175048/1662010/10/aneh-bila-pengungkap-kasus-mencontek-massal-dimusuhi, tanggal 31 Oktober 2013
Dalyono, D. M. (2009). Psikologi Pendidikan. Jakarta: RINEKA CIPTA.
Munib, Achmad, dkk. 2012. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang : UPT UNNES Press.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar